Atribut Sang Jendral
Ternyata, sepeninggal Jendral Soedirman, beliau masih meninggalkan benda-benda bersejarah yang dewasa ini terpampang di dinding-dinding Museum, penasaran?
TIK dan Trend IT? Sama saja, tuh....
Orang-orang bilang belajar TIK itu gak penting, karena susah! Eitts, siapa bilang? Yuk simak 'saweran' Filza tentang TIK!
Kata Rifi: SMA itu Seru Banget!
Rifi membungkus cerita SMA-nya dengan bungkusan warna-warni, penasaran bagaimana kisah SMA dia? Baca lebih lanjut
Belajar Singkat Bahasa Jepang, yuk!
Nashir ingin membagi-bagi ilmu 'Ke-Jepangannya' dengan caranya sendiri. Hemm, memangnya benar belajar bahasa Jepang itu tidak sulit?
Simak Review Museum Polisi!
Salah satu penyawer, Adipa Rizky, mengadakan kunjungan museum Polri di Blok M. Penasaran bagaimana kisah singkat 60 menit yang dialaminya?
Tampilkan postingan dengan label Arief Yunianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arief Yunianto. Tampilkan semua postingan
Pasrean, a Bed for Sri
10.26
Saweran Ilmu
Sunday May 22, 2011, I and my friends visit one museum located in this city, namely the National Museum or commonly known as Museum Gajah because there is an elephant statue in front of this museum. I headed to the museum alone by using one of public transport in Jakarta, namely Transjakarta bus. Initially I wanted to drive a private vehicle, but on Sundays the streets are usually closed to "Car Free Day", therefore I chose to ride bu. I took a bus from the stop Transjakarta Great Mosque, the closest bus stop from my house. After the bus runs approximately 20 minutes, I became a stop off at the National Monument that happened it was right in front of the National Monument. After crossing and then I met some friends to pay entrance and into the museum. Initially we asked a guide at the museum, but museum officials did not ignore us and instead cater to tourists from abroad. One thing I pity the waiter museum. Finally, we explore the museum together without a guide. This is my first time to the National Museum.
Inside the museum, we were all looking at historical objects in the museum. When I look at museum objects, all of a sudden I found a collection of museum-shaped bed. The bed was Pasrean. The shape of this bed is very large, exceeding King size beds and pillows were too big. With sepray pink and has a "roof". Javanese traditional societies, especially pengamal Kejawen teachings, has a special place in the middle of their house to Dewi Sri, who called Pasrean (where Dewi Sri) in order to gain prosperity. Special place is decorated with carvings and statues Loro Blonyo snakes, sometimes complete with farm equipment such as ani-ani or a small sickle and a pinch of rice. Are often given small offerings to offerings for the Goddess Sri.
Then, who is Dewi Sri? I'll explain a little about the Dewi Sri. Dewi Sri is the goddess of agriculture, goddess of rice and paddy fields, as well as the goddess of fertility on the island of Java and Bali. Of glorification and worship to it going on since the pre-Hindu and pre-Islam in Java. Most of the story of Dewi Sri associated with the creation myth of the origin of the rice plant, the main food in this area. Dewi Sri is always portrayed as beautiful young girl, slender-bodied but plump and contained, with the typical face of natural beauty native girl Archipelago. Realising women in their peak of beauty, femininity, and fertility.Adiluhung Javanese culture with high aesthetic tastes like portrayals depict the goddess Dewi Sri and daughters of nobles in the puppet. Thin white face with eyes looking down with an expression of elegant and quiet. Similar to the depiction of the goddess of beauty Sinta from the Ramayana story. Her partner, Sedhana also depicted with great form as Rama. Statue Loro Blonyo (meaning: "two pedestal or base") which describes a pair of male and female, also described as the couple and Sedhana Dewi Sri.
Dewi Sri respected and venerated by the Javanese, Sundanese, and Balinese.Even so many similar versions of the myth about the goddess of fertility is also known by other tribes in Indonesia. Although Indonesia is now the majority are Muslim or Hindu religion, its nature remains nuanced animism and dynamism.
Inside the museum, we were all looking at historical objects in the museum. When I look at museum objects, all of a sudden I found a collection of museum-shaped bed. The bed was Pasrean. The shape of this bed is very large, exceeding King size beds and pillows were too big. With sepray pink and has a "roof". Javanese traditional societies, especially pengamal Kejawen teachings, has a special place in the middle of their house to Dewi Sri, who called Pasrean (where Dewi Sri) in order to gain prosperity. Special place is decorated with carvings and statues Loro Blonyo snakes, sometimes complete with farm equipment such as ani-ani or a small sickle and a pinch of rice. Are often given small offerings to offerings for the Goddess Sri.
Then, who is Dewi Sri? I'll explain a little about the Dewi Sri. Dewi Sri is the goddess of agriculture, goddess of rice and paddy fields, as well as the goddess of fertility on the island of Java and Bali. Of glorification and worship to it going on since the pre-Hindu and pre-Islam in Java. Most of the story of Dewi Sri associated with the creation myth of the origin of the rice plant, the main food in this area. Dewi Sri is always portrayed as beautiful young girl, slender-bodied but plump and contained, with the typical face of natural beauty native girl Archipelago. Realising women in their peak of beauty, femininity, and fertility.Adiluhung Javanese culture with high aesthetic tastes like portrayals depict the goddess Dewi Sri and daughters of nobles in the puppet. Thin white face with eyes looking down with an expression of elegant and quiet. Similar to the depiction of the goddess of beauty Sinta from the Ramayana story. Her partner, Sedhana also depicted with great form as Rama. Statue Loro Blonyo (meaning: "two pedestal or base") which describes a pair of male and female, also described as the couple and Sedhana Dewi Sri.
Dewi Sri respected and venerated by the Javanese, Sundanese, and Balinese.Even so many similar versions of the myth about the goddess of fertility is also known by other tribes in Indonesia. Although Indonesia is now the majority are Muslim or Hindu religion, its nature remains nuanced animism and dynamism.
Dua Tahun di Labsky, Senang, Sedih, bercampur aduk jadi satu.
09.55
Saweran Ilmu
SMA. Kata orang sih masa-masa yang paling indah. Masa yang tidak bisa dilupakan. Semua anak yang akan baru lulus SMP pun pasti sangat ingin cepat-cepat merasakan bagaimana “masa yang paling indah” tersebut. Di sini, saya akan mencoba bercerita bagaimana “masa yang paling indah” yang saya lalui di SMA Labschool Kebayoran ini.
Masa Orientasi Siswa (MOS)
Dimulai dengan pra-MOS pada hari sabtu sebelum hari pertama sekolah pada hari senin, semua siswa baru SMA Labschool Kebayoran diminta untuk datang. Pada hari itu, kami dijelaskan tentang teknis MOS untuk 3 hari kedepan dan apa saja yang harus dilakukan dan dibawa. Awalnya, saya seperti “Apaan nih? Udah kayak sekolah militer aja”, tapi apadaya saya sudah menjadi bagian dari labsky ya harus saya jalani. Siswa laki-laki harus merelakan rambutnya karena semuanya harus berambut sepatu satu, para siswi harus memakai banyak printilan yang menurut saya sangat ribet, membuat name-tag yang terlalu detail, informasi makanan yang diberikan merupakan sebuah teka-teki yang harus ditebak, hmmm. Hari-hari saat MOS pun diisi dengan Lari Pagi yang menurut saya SANGAT MENYIKSA karena kami harus bangun pagi sekali dari biasanya dan lari dari sekolah mengitari sekitaran gandaria sambil dimarah-marahi oleh kakak-kakak OSIS. Lalu makan komando. Oke, hal ini adalah hal yang membuat saya berfikir bahwa sekolah ini adalah sekolah semi-militer. Kenapa? Karena kami diharuskan untuk makan makanan yang dibawa sesuai waktu yang ditentukan dan bahkan waktu yang tidak normal. Lalu latihan baris-berbaris, minta tanda tangan kakak OSIS, pensi yang ditonton 3 angkatan, dll. Hmm, ini adalah masa pertama saya di Labschool Kebayoran dan akan ada lagi acara-acara seperti ini di dalam benak saya.
Pertama Kali di Kelas Akselerasi
Ya, akselerasi. Saya pernah menjadi bagian dalam kelas itu. Kelas percepatan dimana sekolah 3 tahun dipotong menjadi 2 tahun. Pertama kami digabung dalam kelas berisi “calon akselerasi” lalu 1 bulan kami belajar sambil di observasi oleh guru-guru yang mengajar kami untuk menilai apakah kami pantas berada di kelas akselerasi. Di dalam kelas itu, saya masih canggung untuk bersosialisasi. Apalagi saat melihat sudah ada yang saling kenal dan menurut saya hampir 1 kelas. “Apa saya bisa punya teman ya di kelas ini?” sempat terpikir dibenak saya. Namun, lama-kelamaan ada yang mengajak saya mengobrol dan saya mulai bersosialisasi.1 bulan berlalu, saatnya pengumuman. Semua “caksel” mendapat surat yang berisi pernyataan apakah kami bisa melanjutkan dikelas akselerasi atau tidak. Pertama kali saya memegang surat, hati saya berdetak kencang. “Apakah saya dapat melanjutkan belajar di kelas akselerasi?” Sebenernya dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin keluar dari kelas akselerasi karena cara belajarnya yang menurut saya SANGAT CEPAT seperti pesawat concorde. Tapi hal lain yang membuat saya ingin tetap di kelas akselerasi adalah saya sudah klop dengan teman-teman di dalamnya. Lalu, saya membuka surat tersebut, lalu membaca isi surat tersebut.... Sujud adalah hal yang pertama saya lakukan setelah membaca surat tersebut karena saya diterima di kelas akselerasi. Betapa senangnya saya saat itu.
Pesantren Kilat dan Trip Observasi (TO)
Ya pesantren kilat, hampir semua sekolah mengadakan pesantren kilat untuk siswanya pada bulan Ramadhan. Tapi, lain di Labsky, pesantren kilat yang biasa dilakukan di lain tempat dan penuh dengan kegiatan keagamaan yang membuat anak-anak mengantuk, bosan, dll, pesantren kilat kali ini penuh dengan kegiatan yang menyenangkan, mentor yang tidak membosankan, TAPI hal minus yang ada di dalamnya adalah makan komando “lagi” dan beberapa hal yang pernah dilakukan di MOS. Pesantren kilat ini berlangsung selama 3 hari yang acaranya diisi dengan games, seminar, outbound, dll. Satu hal yang paling saya ingat di pesantren kilat ini adalah saat semua peserta di minta untuk menutup mata dan berjalan dari lt.4 ke lt. 1 menuju hall dan duduk, lalu semuanya membuka mata dan bertemu dengan orang tua. Rata-rata semuanya menangis setelah bertemu orang tua.
Lalu kegiatan berikutnya adalah TRIP OBSERVASI. Kegiatan dimana semua siswa kelas 10 dan kelas 11 dan 12 yang belum ikut ditempatkan di suatu desa dan kita ikut hidup berbaur dengan kehidupan dan warganya di sana. Tapi sebelum TO, ada pra-TO dimana kami dilatih dulu agar bisa berbaur dengan warga desa. Disini, hal yang sama dengan MOS terjadi lagi, dimana kami harus lari pagi selama 3 hari, makan komando, membuat name-tag, memplontoskan rambut, siswi-siswi kembali memakai printilan dan semuanya dengan level yang lebih susah dibanding MOS. Setelah 3 hari mengikuti kegiatan MOS, kami kembali belajar seperti biasa selama 3 hari setelah kegiatan pra-TO, lalu berangkat menuju Kampung Pasir Muncang di Purwakarta. Ohiya, nama kelompok saya saat TO dan pra-TO adalah “Polo-Palo”, kalau tidak salah nama tersebut adalah nama alat musik tradisional dari Gorontalo. “Polo-Palo” terdiri dari Ihsan, Heza, Alya, Danti, Raras, Alyn, Dredha, dan saya sendiri dan 2 kakak OSIS sebagai pendamping yaitu Kak Arum dan Kak Icha. Banyak kegiatan yang kami lakukan dalam Trip Observasi ini.
BINTAMA
Bina Mental Kepemimpinan Sis wa, sebuah acara sekolah berisi kegiatan-kegiatan militer. Capek, marah, sedih, hal-hal itu yang bisa saya ungkapkan dari kegiatan tsb tapi ada juga sisi menyenangkannya. Kegiatan ini dilaksanakan di Serang dan kami dilatih oleh Komando Pasukan Khusus grup 1 Republik Indonesia. Dalam kegiatan ini kita diwajibkan melakukan rutinitas layaknya militer dan kita diajarkan juga berbagai macam hal-hal yg berhubungan dengan militer, seperti makan komando, baris-berbaris, outbound, dll. Kami juga tinggal dibarak layaknya tentara. Sebenarnya barak yang kami tempati sebenarnya bagus hanya saja belum selesai pengerjaannya . Barak yang kami tempati ini nantinya akan digunakan oleh peserta kompetisi menembak se-asia (kalau tidak salah) seperti yang dikatakan pelatih. Dalam kegiatan ini saya sempat jatuh sakit akibat kelelahan setelah mengikuti berbagai macam kegiatan. Kami juga diajarkan untu survive di dalam hutan tanpa makanan sehingga kami semua mencicipi ULAR dan BIAWAK. Hmm awalnya jijik, tetapi ternyata rasanya lumayan. Banyak hal yang diajarkan dalam kegiatan ini.
Festival International de Folklore + Euro Trip
LALINJU
Kelas 2 ini saat dimana saya sangat malas untuk belajar dan mengerjakan berbagai macam tugas. Ya, seperti yang kita tahu memang kelas 2 masa-masa untuk bermalas-malasan setelah belajar susah-susahan untuk mendapatkan jurusan yang kita inginkan di kelas 1. Saya suka tidur di kelas, bermain, dan tidak mengikuti kelas.
Hunting On The Trip 2011
HOTT adalah salah satu program kerja OSIS bidang publikasi dan dokumentasi. HOTT ini dilaksanakan di Tasikmalaya pada bulan Mei 2011. Tempat-tempat yang dikunjungi pada acara ini adalah sebuah danau yang saya lupa apa namanya dan Kampung Naga. Awalnya tempat pertama yang kami tuju adalah Gunung Galunggung, tetapi karena kami telat sampai di Tasik, kami akhirnya mengganti tujuan kami ke Danau sebagai alternatif yang telah kami rencanakan. Banyak cerita yang terjadi di acara ini, contohnya ada peserta yang tertinggal, telat sampai di tujuan hingga kami merubah susunan acara, dll. Satu cerita yang terkenang oleh saya adalah saat saya tidur di sebuah hotel di tasikmalaya, kebetulan hari itu adalah malam minggu, tepat di depan hotel ada semacam diskotik. Diskotik itu menyalakan musik yang volumenya luaaaaar bisa kencang sampai-sampai saya tidak bisa tidur. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan sukses.
Selain HOTT, banyak program kerja OSIS lain yang kami laksanakan, antara lain SkyBattle dan Sky Avenue. Alhamdulillah, semuanya terlaksana dengan baik dan sukses walaupun ada kendala yang harus kami hadapi.
Studi Lapangan: JOGJA
Hari Terakhir Kelas 11
Di kelas XI IPA 2, sebelum menghadapi UKK, berat rasanya berpisah dengan teman-teman yang ada dikelas ini. Bermacam-macam anaknya dan menurut saya kelas IPA yang paling enak karena semuanya berteman dengan baik. 3 hari terakhir kami habiskan untuk berfoto-foto, bercerita-cerita kejadian yang pernah terjadi di kelas dan kami memberikan kejutan kepada Pak Yusuf karena telah menjadi wali kelas kami selama 1 tahun. Senang rasanya bisa menjadi bagian dari kelas ini.
Itulah “masa terindah” saya selama 2 tahun bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Dan cerita-cerita itu tidak akan terulang kembali karena saya sudah kelas 12 dan akan menghadapi Ujian Nasional dan akan melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi (Amin Ya Robbal Alamin). Semua ini akan saya kenang selalu dan pasti suatu saat nanti, saat kami sudah dewasa, hal-hal ini dapat dikenang saat kami berkumpul.








