Atribut Sang Jendral

Ternyata, sepeninggal Jendral Soedirman, beliau masih meninggalkan benda-benda bersejarah yang dewasa ini terpampang di dinding-dinding Museum, penasaran?

TIK dan Trend IT? Sama saja, tuh....

Orang-orang bilang belajar TIK itu gak penting, karena susah! Eitts, siapa bilang? Yuk simak 'saweran' Filza tentang TIK!

Kata Rifi: SMA itu Seru Banget!

Rifi membungkus cerita SMA-nya dengan bungkusan warna-warni, penasaran bagaimana kisah SMA dia? Baca lebih lanjut

Belajar Singkat Bahasa Jepang, yuk!

Nashir ingin membagi-bagi ilmu 'Ke-Jepangannya' dengan caranya sendiri. Hemm, memangnya benar belajar bahasa Jepang itu tidak sulit?

Simak Review Museum Polisi!

Salah satu penyawer, Adipa Rizky, mengadakan kunjungan museum Polri di Blok M. Penasaran bagaimana kisah singkat 60 menit yang dialaminya?

Tampilkan postingan dengan label Rizki Muhammad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rizki Muhammad. Tampilkan semua postingan

Atribute of General Sudirman and Sacred proclamation text


A few months ago I visited the Museum Satria Mandala is located at Jalan Gatot Subroto. This museum is a military museum, here there are a wide range of historical military objects. Some collections that interested me was the equipment and attributes of General Sudirman, such Stretcher used by General Sudirman when he led the guerrilla war, and the Diorama and the text of the proclamation of Indonesia 1945. When I visited this museum, there are many elementary students who seem to be visiting the museum. So the museum was very crowded with children. Elementary school students before they enter the museum, my family and I go first and explore the museum. When we arrived at the diorama room, there are many statues of figures from the fighters who are carrying weapons or fighting for independence. This museum was very quiet and silent, even my mom was pretty spooky inside the museum, but we still observe this mandala warrior museum. After finishing in the diorama room, we had entered the armory. Here lots of different kinds of weapons during the war of independence. We did not linger in museums, because at that time I was sick, and after we look around the museum Satria Mandala, we went home.
In this museum there are collections of armaments, General Sudirman's attributes, namely in the form of a sword, and ranks belong to the general. General Sudirman was one of the highest-ranking generals in the history of Indonesia Indonesia sepanajang selaih General A. H. Nasution. General Sudirman was a soldier who worked his way up from the ordinary soldier to be Commander in Chief of the Armed Forces of the Republic of Indonesia. General Sudirman - is a leading and commanding the resistance against the Dutch troops who invade and topple the Republic of Indonesia which is famous for its military aggression I and II. In 1944 Sudirman  began to enter the army called PETA. He served as Daidanco in Kroja. After obtaining the rank that he wanted to make dreams - his goal is the independence of the homeland, and eventually he inevitably must struggle against the invaders with arms. To realize the goal - his goal, Sudirman begin to educate the youth to enter the spirit unpatriotic. He wants to form a revolutionary people's army for the glory of beloved homeland.
Motion - movements Sudirman apparently wafted by the Japanese, to avoid it - it is not desirable, he moved to Bogor. At the time of the Japanese surrender to the Allies, Sudirman was arrested by the Company.
Soon, he was released because of the Allied defeat of Japan. After the prisoners returned to Banyumas Sudirman. Then he gathered his men who joined the PETA and prepared for war for independence.
As is known, the Indonesian revolution erupted.
There - here maha fierce fighting, seized control of Japan. Turbulent throughout Indonesia. Sudirman come forward with a great soul. In Kroya, Sudirman with his army besieged the heavily armed Japanese soldiers, Japanese soldiers to surrender. After that event the name Sudirman flying, the people who followed his struggle. All the captured weapons used to arm its troops.
After the success in Kroja, Sudirman continue the action into Navan. Fierce fighting ensued, but he still won and the Japanese surrender.
Japan seized all the weapons to strengthen his army.
When fighting erupted Semarang, Sudirman set Kedu ranks in the area. He grew stronger and more stable heart to fight against the invaders. When British troops invaded from Semarang to Ambarawa, Sudirman face the combined armies bravely. Fierce battle ensued, and finally for the umpteenth time, Sudirman won the battle, and the enemy can be driven back to Semarang.
Since then the name is very famous Sudirman. Due to the successive victory - helped, and maintain kegemilanganya Ambarawa from the invasion of Allied forces, it is no exaggeration when President Sukarno appointed him as Commander in Chief of the Armed Forces of the Republic of Indonesia.
Appointment Sudirman became Great Commander of the Armed Forces of the Republic of Indonesia is not due to the education which he passes at the Military Academy. But the sheer - the eye based on skill and courage he is very - very unusual.
At the time of General Sudirman's guerilla lead when military aggression, he is in ill condition. Despite being sick, he still led the guerrillas, although he must stretcher. After a long battle to maintain the independence of the Republic of Indonesia, finally on January 29, 1950 at 06:30, General Sudirman died with great composure in the age of 38 years in Magelang because of her illness.
Diorama Proclamation contained in this mandala warrior museum, displaying the current situation of the president Ir. Sukarno was reading the proclamation in his yard, yaituu at Jln. East Pegangsaan No. 56, Central Jakarta. Negotiations between the groups young and old groups in preparing the text of the Proclamation of Independence of Indonesia took place at 2:00 to 4:00 a.m. in the morning. Text of the proclamation was written in the dining room at the Admiral Tadashi Maeda jln Imam Bonjol No. 1. The compilers of the text of the proclamation was Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, and Mr. Ahmad Soebarjo. Draft text of the proclamation was written by Ir. Sukarno himself. In the front room, attend BM Diah Sayuti Melik, Sukarni and Soediro. Sukarni proposed that the signed text of the proclamation was Ir. Soekarno and Drs. Moh. Hatta on behalf of the Indonesian nation. Indonesia's proclamation of the text typed by Sayuti melik. In the morning, August 17, 1945, at the residence of Sukarno, Pegangsaan Road 56 East was present among others Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani and Trimurti. The event begins at 10:00 with the reading of the proclamation by Sukarno and jointed speech without text. Then the flag, which had been sewn by Fatmawati bu, raised, followed by remarks by Soewirjo, deputy mayor of Jakarta at the time and Moewardi, Pioneer Barisan leaders.
Trimurti initially asked to raise the flag but he refused on the grounds pengerekan flag should be performed by a soldier. Therefore, it instituted a Hendraningrat Latif, a soldier PETA, assisted by Soehoed for the task. A young woman emerged from behind a tray of red and white flag (Sang Saka Merah Putih), which is sewn by Fatmawati few days earlier. After the flag waving, the crowd singing Indonesia Raya. Until now, the inheritance flag is still preserved in the Museum Monument National Monument.
After the ceremony took place, approximately 100 members of the Barisan-led Pioneers S. Brata come in a hurry because they do not know where sudden changes of the Pegangsaan Ikada. They are demanding Sukarno's Proclamation of repeat readings, but was refused. Hatta finally give a brief message to them.




Dua Tahun Di Labsky, sebuah kisah pendidikan



            Sudah dua tahun saya bersekolah di SMA Labschool kebayoran, yang artinya sekarang saya sudah berada di kelas XII jurusan IPA. Dua tahun di SMA ini sangat penuh kesan, suka duka bersekolah disini sangat beragam. Dua tahun itu, tidak terasa sudah berlalu dengan sangat cepat. Karena kami siswa/i menjalani berbagai kegiatan bersama-sama sebagai satu angkatan, baik sebagai Nawa Drastha Sandyadira, Adrika Phataka, maupun sebagai Dranadaraka Wiraksaka ataupun Batharasatya Hayaskara, sehingga kurun waktu dua tahun tersebut pun terasa cukup singkat. Dua tahun ini kami isi dengan menjalankan berbagai macam program kerja yang membuat kami menghabiskan waktu bersama-sama dan saling berbagi canda-tawa serta cerita dan manis pahitnya program kerja tersebut yang meninggalkan kenangan-kenangan menyenangkan bagi saya, dan kebersamaan-kebersamaan tersebut yang membuat saya merasa nyaman tetap bersekolah di SMA Labschool Kebayoran.
            Karena kami menjalani kegiatan tersebut bersama-sama, sehingga kami memiliki banyak waktu untuk bekerja sama membantu satu sama lain yang saat ini telah mempererat persatuan kami sebagai teman,sahabat, dan sebagai satu angkatan. Sesuai arti dari Nawa Drastha Sandyadira  yang artinya “Angkatan IX yang Bermahkotakan Persatuan yang Kokoh”. Perjuangan kami bersama-sama sebagai satu angkatan dimulai dari MOS ketika kami kelas X, dan hingga yang terakhir kami lakukan dalam skala besar adalah SKY AVENUE 2011. Kelas X merupakan masa-masa dimana banyak program kerja baik dari sekolah maupun ekstrakulikuler yang saya ikuti pada waktu itu, dimana keduanya bertujuan membentuk individu yang baik sebagai pemimpin, dan untuk mengajarkan kita kerja sama sehingga kami menjadi saling mengenal satu sama lain dan membangun satu angkatan yang kompak.

Masa Orientasi Siswa
            Masa orientasi siswa atau MOS merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh siswa/i baru di SMA Labschool Kebayoran dan merupakan salah satu program wajib, dimana bila tidak mengikutinya maka harus mengikuti tahun depan. Pada saat saya di-MOS sebagai siswa baru disini, saya masih belum kenal siapa saja teman-teman seangkatan saya. Di MOS ini kami dibagi menjadi berbagai kelompok, dimana kami mulai mengenal satu sama lain dan bekerja sama di MOS ini, salah satunya adalah dengan merancang pentas seni yang kemudian ditampilkan pada hari terakhir MOS dan ditonton oleh seluruh siswa SMA Labsky dari para siswa baru(peserta MOS) hingga ke kakak-kakak Saptraka. MOS yang hanya tiga hari ini, saya akhiri dengan mulai mengenal beberapa teman seangkatan saya, lebih tepatnya mengetahui nama mereka. Masa orientasi ini juga meningkatkan kreativitas kami, karena disini selain disuruh berambut botak bagi siswa laki-laki, kami juga harus membuat nametag yang rumit dimana butuh kerja keras dan kesabaran, serta kami harus membawa bekal yang disuruh tapi diberitahukan dengan menggunakan kode, sehingga kami harus kreatif untuk menebak maksud dari kode yang diberikan sehingga kami membawa makanan yang tepat. Meski satu orang sudah mengetahui maksud kode tersebut, orang itu harus membertahukan kepada teman-teman yang lain juga, karena meski ini merupakan pengenalan awal kepada budaya sekolah kami sudah dituntut untuk mulai membangun kekompakkan angkatan meski angkatan kami belum terbentuk bahkan meski kami baru mengenal satu sama lain.
Trip Observasi
            Trip Observasi merupakan kegiatan dimana kami pergi ke suatu desa selama 5 hari tanpa alat elektronik dan alat komunikasi. Kami disini memiliki tugas untuk melakukan observasi di desa tersebut, baik berupa penelitian maupun survey dimana yang kemudian akan kami tampilkan seperti presentasi karya ilmiah. Trip observasi juga merupakan salah satu program yang wajib diikuti oleh siswa/i baru di SMA Labschool Kebayoran. Disini kami dibagi menjadi 25 kelompok kecil dimana setiap kelompok memiliki tema observasi yang berbeda-beda, dan setiap kelompok mempunyai ketua kelompok masing-masing. Meski trip observasi kami lakukan selama 5 hari, namun kerjasama kami sudah harus terbentuk seminggu bahkan dua minggu sebelum acara ini dilaksanakan, karena kami harus menjalani Pra-Trip Observasi terlebih dahulu selama 3 hari. Disini kami mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan trip observasi nanti, dimulai dari tongkat TO, nametag, pembagian tugas kelompok, perencanaan penelitian(observasi), kepedulian lingkungan, hingga mental dan fisik kami pun dibina disini dengan beragam cara seperti lari pagi dan olahraga pagi, bahkan kami pun diajarkan untuk memimpin disini.
            Setelah menjalani pra-TO tersebut, kami memiliki waktu sekitar satu minggu untuk mematangkan yang sudah kita persiapkan pada pra-TO. Seperti mempersiapkan daftar pertanyaan untuk wawancara ketika trip observasi, intinya kami melakukan cek ulang akan kesiapan kami menjalani trip observasi, di hari terakhir dari pra-TO ini kami diangkat menjadi satu angkatan dengan adanya tiga orang ketua angkatan yaitu ketua umum, ketua 1 dan ketua 2 serta kami pun memiliki nama angkatan dan yel-yel angkatan. Yel-yel angkatan tersebut harus diketahui oleh satu angkatan, dan kami peragakan satu angkatan ketika senior kami memanggil “Angkatan sembilan, siapa kalian?” maka kami menjawab dengan menampilkan ye-yel angkatan kami. Saya akui baik pra-TO dan TO merupakan salah satu program yang seru dan menyenangkan baik saat saya sebagai peserta maupun sebagai senior. Disini karena kami pergi bersama-sama ke tempat yang jauh dan kami ditempatkan di rumah-rumah penduduk yang kemudian pemilik rumah tersebut menjadi orang tua asuh kami. Di TO ini saat saya sebagai peserta maupun senior, tetap ada suka duka di kegiatan ini. Ketika saya sebagai peserta, saya merupakan salah satu ketua kelompok, yaitu kelompok Topenggong dengan osis pendamping kak Rinaldy Suranta dan Kak Seshana Avianda, serta Ibu Wulan sebagai guru pembina. Ketika saya sebagai peserta acara ini sangat melelahkan dan kelompok saya cukup unik mungkin, lebih tepatnya agak berisik. Tapi karena hal tersebut, membuat saya merasa kalau kelompok ini menyenangkan, karena disaat sulit sekalipun, kami masih bisa bercanda dan tertawa. Meski lelah tapi sangat menyenangkan berada di kelompok seperti itu.
            Sedangkan ketika saya sebagai pengurus osis, saya tetap merasakan suka duka trip observasi ini. Pada saat saya sebagai pengurus osis, suka duka yang saya rasa adalah karena ada seorang peserta yang special untuk saya, namun saya tidak bisa berbicara dan menghabiskan waktu bersama karena berbagai hal, bisa dibilang karena kebodohan saya sendiri sehingga saya merasa begitu karena saya melakukan kesalahan yang fatal, yang sangat saya sesali saat ini. Orang itu sangat special untuk saya, bahkan di TO ada momen dimana peserta memberikan surat cinta kepada salah satu pengurus osis, dan saya merasa sangat senang ketika orang yang saya anggap special tersebut memberikan surat cinta kepada saya. Padahal sebelumnya saya merasa kecewa karena dia mengatakan kalau tidak akan memberikan surat itu kepada saya, tapi ternyata dia memberikannya kepada saya sehingga saya sangat senang menerimanya, namun saya telah membuat dia kecewa karena kebodohan saya sendiri.

Bina Mental Kepemimpinan Siswa
            Bina mental kepemimpinan siswa(BINTAMA) merupakan program wajib terakhir, program ini merupakan program dimana kami satu angkatan menjalani latihan mental dan kedisiplinan bersama dengan komando pasukan khusus(KOPASSUS). BINTAMA berlangsung selama 6 hari, disini lebih ditekankan menguatkan disiplin dan tanggung jawab serta kepedulian kita terhadap teman maupun lingkungan. Disini kami mendapatkan berbagai materi-materi ala militer, seperti PBB, survival, navigasi darat, LCR, dan lain sebagainya.

Latihan Kepemimpinan Siswa dan Tes Potensi Organisasi
            Lapinsi dan TPO merupakan penyeleksian untuk mereka yang ingin menjadi pengurus OSIS, di lapinsi kami mendapatkan berbagai materi mengenai surat-menyurat hingga organisasi. Sedangkan TPO merupakan ujian untuk yang ingin menjadi pengurus OSIS, di TPO terdapat ujian olahraga, agama, PBB, dan makalah. Lapinsi lebih terasa seperti seminar tentang organisasi daripada sebuah ujian, sedangkan TPO benar-benar merupakan ujian dimana kita harus mempersiapkan diri untuk segala hal yang akan diujikan, kita harus siap mental dan fisik.

PALABSKY (Pecinta Alam SMA Labschool Kebayoran)
          Palabsky(Pecinta Alam SMA Labschool Kebayoran) merupakan ekstrakulikuler yang saya ikuti sejak saya kelas X. Palabsky merupakan organisasi seperti OSIS, hanya saja memiliki tipe program kerja yang berbeda, dan di palabsky kami mempelajari ilmu-ilmu kepecinta alaman dan mempraktikkannya di alam terbuka. Saya mengawali cerita di palabsky, dimulai dari tahap CAM (Calon Anggota Muda) pada saat kelas X dan kemudian beranjak menjadi AM (Anggota Muda) setelah menjalani pendidikan dasar dimana saya dan teman-teman berusaha bersama untuk melewati hari-hari penuh tantangan untuk menjadi anggota muda, dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus kami (AM) yang telah lulus menjalani program-program palabsky pun mendapatkan nomor anggota dan jaket kepengurusan. Pada saat saya masih CAM maupun ketika saya sudah menjadi pengurus, program kerja yang pertama dijalankan adalah susur pantai, yang merupakan kegiatan di alam terbuka dimana kita menyusuri pantai dari titik start hingga finish yang telah ditentukan, dengan perjalanan selama 4 hari 3 malam. Disini kita mempraktikkan ilmu-ilmu yang telah kita pelajari di kelas, dan menerima ilmu baru karena kondisi di lapangan dan di kelas sangatlah berbeda. Kemudian setelah susur pantai, program selanjutnya adalah navigasi darat, dimana kita menerapkan ilmu lebih lanjut dari navigasi dan apabila kita bisa mencapai finish sebelum batas waktu yang ditentukan, kita mendapatkan hadiah berupa pendakian gunung kencana yang menjadi puncak pertama kami. Untuk mencapai finish tentunya kami harus menerapkan ilmu navigasi, dimana kakak-kakak pengurus hanya menjadi mentor yang menemani kami, dan hanya member petunjuk untuk navigasi. Selain susur pantai dan navigasi darat masih banyak program kerja lain yang kami jalani, seperti rafting, rock climbing, caving, pendidikan dasar, hingga eksplorasi maupun ekspedisi. Ketika kami menjadi pengurus palabsky periode 2010-2011 kami mempelajari banyak hal seiring menjalankan program kerja dan membina adik-adik junior kami. Kami belajar berorganisasi, berkoordinasi, bersosialisasi, mengumpulkan dana, mengurus perizinan, mempersiapkan logistic berupa alat-alat maupun konsumsi, menyiapkan transportasi, dan lain sebagainya, bahkan kami pun belajar untuk mengevaluasi diri sendiri dan orang lain. Yang membuat palabsky menyenangkan adalah kegiatan-kegiatannya tetap mengajak alumni, sehingga memperluas pergaulan, dan kita menjadi lebih mengenal teman seangkatan kita karena kita mengalami berbagai rintangan-rintangan yang berbeda di setiap proker dan setiap harinya pun berbeda sehingga kita harus benar-benar bekerja sama untuk saling membantu.

OSIS DRAKARA
            Ketika berada di kelas X, saya mengikuti Lapinsi dan TPO dan Alhamdulillah lolos menjadi pengurus OSIS, setelah lolos dua seleksi tersebut saya pun mengikuti tes seksi BN (Bela Negara). Setelah usai melakukan tes-tes yang beragam dan diumumkan hasilnya, seluruh calon pengurus OSIS periode 2010-2011 pun mengikuti LALINJU. OSIS periode ini bernama Dranadaraka Wiraksaka, dan setelah dilantik menjadi pengurus OSIS pada tanggal 17 Agustus, cerita sebagai pengurus OSIS pun dimulai. Hal pertama yang kami lakukan setelah dilantik adalah siding AD/ART dan rapat RAKER bersama dengan MPK Batharasatya Hayaskara. Dan setelah dua hal tersebut program kerja yang pertama dilakukan adalah PILAR (Pesantren Kilat Ramadhan) oleh sie. Rohani Islam. Saya dan teman-teman di seksi bela Negara memiliki beberapa program kerja yang kami ajukan, antara lain Sky Nation, Pelantikan Pemeriah, Apel dan Upacara, serta Jabat Tangan. Selain program-program tersebut kami juga menangani beberapa hal di acara Pra-TO, seperi kegiatan siaga tongkat dan lain sebagainya. Kami sebagai OSIS bukan hanya menjalankan program kerja yang kami rancang saja, tetapi juga menjadi mitra sekolah dalam membina adik kelas dalam acara-acara sekolah seperti Trip Observasi dan BINTAMA. Kami (seksi Bela Negara) pada saat acara-acara tersebut berperan sebagai timekeeper dimana kami bertugas untuk mengatur pergerakan para adik kelas agar mereka tidak bermalas-malasan meski kami terkadang harus keras atau membentak mereka. Mungkin mayoritas dari mereka yang kami bentak tersebut akan membenci kami, tapi kami tidak keberatan karena memang tugas kami sebagai timekeeper.




 

Dari Labsky Untuk Indonesia


Rangkuman Kewarganegaraan Semester 3 a.k.a Kelas XI semester 1
1.    Budaya Politik
Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas secara politik. Istilah tersebut meilputi, legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan partai-partai politik, perilaku aparat Negara, dan gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah.
Budaya politik didasarkan pada etika politik yang berlaku dalam kehidupan masyarakan, yang merupakan tata nilai, sopan santun, atau ukuran baik buruknya tingkah laku politik atau pelaku politik, baik dalam supra struktur maupun infra struktur. Etika politik bersumber pada tata nilai budaya dan system politik Negara yang bersangkutan.
Budaya politik merupakan aspek terpenting dalam system politik, selain kekuasaan, kepentingan, dan kebijakan yang dapat mencerminkan faktor subjektif. Budaya politik adalah keseluruhan dari pandangan-pandangan politik, seperti norma-norma, pola-pola orientasi terhadap politik, dan pandangan hidup pada umumnya.
Almond dan Powell berpendapat bahwa budaya politik merupakan dimensi psikologi dari sistem politik, yaitu budaya politik bersumber pada perilaku lahiriah dari manusia yang bersumber dari penalaran-penalaran yang sadar. Konsep budaya politik terdiri atas sikap, keyakinan, nilai-nilai, dan keterampilan yang sering berlaku pada seluruh anggota masyarakat. Dengan demikian budaya politik dapat juga dapat juga diartikan sebagai suatu sistem nilai bersama suatu masyarakat yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan public untuk masyarakat secara keseluruhan.
Budaya politik dibagi menjadi 3, yaitu budaya politik apatis(masyarakat bersifat pasif), budaya politik mobilisasi, dan budaya politik partisipan(masyarakat bersifat aktif).
Budaya politik mencakup 3 hal, yaitu :
-          Orientasi yang dipengaruhi oleh perasaan keterlibatan dan penolakan terhadap kehidupan politik
-          Orientasi yang bersifat menilai objek dan peristiwa politik
-          Orientasi dari Individu yang diperolehnya dari pengetahuan mengenai kehidupan politik

A.   Macam-macam budaya politik
1)      Berdasarkan Tipenya (secara umum):
o   Budaya politik parochial, yaitu berada dalam wilayah atau lingkup kecil. Pelaku politik melakukan peranannya di dalam berbagai bidang karena belum ada spesialisasi
o   Budaya politik sebagai subjek, yaitu berada dalam suatu wilayah yang lebih besar. Misalnya di kota yang telah memilki kesadaran politik cukup tinggi dan ketaatan serta loyalitas kepada pemimpin yang cukup besar.
o   Budaya politik sebagai peserta, yaitu berada dalam masyarakat yang telah memiliki kesadaran politik yang tinggi dan aktif di dalam memainkan peranan politik, baik dalam sistem atau input maupun diluar sistem atau output.
o   Tipe campuran, yang meliputi parochial subject culture, subject participant culture, parochial participant culture, and civic culture.
2)      Menurut Drs. Syahrial Syarbaini:
o   Tipe Absolut
Tipe budaya politik absolute mempunyai sikap mental yang memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang dianggap selalu sempurna dan tidak dapat diubah.
o   Tipe Akomodatif
Struktur mental budaya tipe akomodatif biasanya terbuka dan bersedia menerima apa saja yang dianggap berharga.
3)      Berdasarkan Orientasi-orientasi Warga Negara Terhadap Kehidupan Politik Dan Pemerintahan:
o   Budaya politik partisipan, yaitu setiap warga Negara yang melibatkan diri dalam kegiatan partai politik, sekurang-kurangnya dalam pemberian suara dan mencari informasi tentang kehidupan politik.
o   Budaya politik subjek, yaitu setiap warga Negara yang secara pasif patuh kepada pemerintah dan undang-undang dengan tidak ikut pemilihan umum.
o   Budaya politik parochial, yaitu warga Negara sama sekali tidak menyadari adanya pemerintahan dan politik.
4)      Berdasarkan Golongan Dalam Sistem Politik:
o   Masyarakat Demokratis Industrial
Dalam model ini jumlah partisipan mencapai 60% dari penduduk dewasa dan banyak aktivitas politik untuk menjamin adanya kompetisi partai-partai politik serta kehadiran pemberian suara yang besar.
o   Model Sistem Otoriter
Dalam model ini terdapat sebagian kecil partisipan industrial dan modernis, seperti organisasi politik, mahasiswa, dan kamu intelektual dengan tindakan persuasive menentang sistem yang ada meskipun sebagian besar partisipan hanya subjek yang pasif.
o   Sistem Demokrasi Pra-Industri
Dalam sistem ini hanya terdapat sedikit sekali partisipan dan sedikit pula keterlibatannya dalam pemerintahan.

Selain tipe-tipe budaya politik, dikenal pula gejala politik, yaitu suata gejala yang berakar pada perjuangan manusia untuk mempertahankan atau memperoleh kekuasaan untuk mencapai suatu tujuan politik tertentu.
Model budaya politik suatu bangsa dapat juga mengacu kepada aspek-aspek dan objek yang dilakukan serta hubungan antar keduanya sebagaimana dirumuskan oleh Parson dan Shield, sebagai berikut :
-          Orientasi kognitif (Pengetahuan), yaitu pengetahuan dan kepercayaan pada politik, peranan, dan segala kewajiban, serta input atau outputnya.
-          Orientasi afektif (Sikap), yaitu perasaan terhadap sistem politik, peranan, dan penampilannya
-          Orientasi evaluative (Evaluasi), yaitu keputusan dan pendapat tentang objek-objek politik yang secara tipikal melibatkan kombinasi standar nilai dan criteria dengan informasi dan perasaan.

B.   Faktor-faktor yang mempengaruhi budaya politik
-          Tingkat Pendidikan Warga Negara
Tingkat pendidikan warga Negara yang baik, bukan doktriner merupakan pendidikan politik yang baik dan memungkinkan lahirnya budaya politik yang demokratis.
-          Tingkat Ekonomi
Semakin tinggi kesejahteraan suatu masyarakat maka semakin tinggi pula tingkat partisipasi politiknya. Namun hal itu tidak berlaku mutlak.
-          Reformasi Politik
Semangat pemegang kekuasaan untuk tetap memperbaiki sistem politik yang lebih baik
-          Supremasi Hukum
Adanya penegakan hokum yang adil, independen, dan bebas akan melahirkan kepastian hokum sehingga menimbulkan budaya politik yang taat dan sadar hukum
-          Media Komunikasi yang Independen
Pers dan media massa merupakan alat kontrool yang efektif dalam rangka menumbuhkan budaya politik yang sehat.
            Menurut Prof. Miriam Budiarjo, bentuk dari budaya politik dalam masyarakat dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut :
-          Sejarah perkembangan dari sistem politik
-          Agama yang terdapat dalam suatu masyarakat
-          Kesukuan
-          Status Sosial
-          Konsep mengenai kekuasaan atau kepemimpinan

C.   Sosialisasi Budaya Politik
Sosialisasi politik adalah proses pembentukan sikap dan orientasi politik pada anggota masyarakat. Sosialisasi politik merupakan bagian dari proses sosialisasi yang khusus membentuk nilai-nilai politik dan menunjukkan bagaimana seharusnya masing-masing anggota masyarakat berpartisipasi dalam sistem politik.
Sosialisasi politik ditentukan oleh lingkungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan tempat individu berada. Selain itu, sosialisasi politik juga ditentukan oleh interaksi pengalaman-pengalaman serta kepribadian seseorang.
Sosialisasi politik juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk mewariskan patokan-patokan atau keyakinan-keyakinan politik kepada generasi berikutnya, yang disebut juga sebagai transmisi kebudayaan.

D.   Mekanisme Sosialisasi Politik
Untik mencapai budaya politik yang kondusif, diperlukan suatu metode/mekanisme sosialisasi politik yang dapat ditempuh dengan cara pendidikan politik dan indoktrinasi

2.    Budaya Demokrasi
Budaya demokrasi dapat diartikan sebagai keseluruhan dari suatu sistem nilai dan gagasan mengatur kehidupan demokrasi pada umumnya. Dalam mengembangkan budaya demokrasi diperlukan pimpinan nasional yang memiliki komitmen utuh terhadap kebangsaan, memahami sejarah perjuangan kebudayaan, dan mamu menyatukan komponen kemajemukan.
Stabilitas demokrasi memerlukan suatu komitmen pada nilai-nilai, norma-norma, dan aturan-aturan demokrasi. Pada hakikatnya proses awal demokrasi memerlukan beberapa hal, yaitu:
-          Konsensus diantara komunitas warga Negara
-          Kesadaran untuk mengadopsi aturan-aturan demokrasi
-          Toleransi terhadap perbedaan
Samuel Huntington mencatat beberapa factor yang menyebabkan demokratisasi lebih cepat, yaitu sebagai berikut:
-          Tingginya tingkat kesejahteraan ekonomi
-          Adanya pluralism sosial
-          Struktur sosial yang terdiferensiasi dan artikulasi dalam kelompok borjuis yang kuat dan otonom
-          Adanya ketimpangan yang berorientasi pasar yang melahirkan pemisahan kekuasaan dan mengontrol kekuasaan Negara
-          Adanya ketmpangan yang besar dalam kekayaan dan pendapatan
-          Adanya tekanan eksternal untuk melakukan demokrasi
-          Adanya budaya toleran terhadap perbedaan
Budaya demokrasi mengandung beberapa prinsip, diantaranya sebagai berikut:
-          Budaya demokrasi berlandaskan kepada etika dan nilainilai demokrasi yang berlaku
-          Budaya demokrasi merupakan keseluruhan sistem nilai dan gagasan dalam kehidupan demokrasi
-          Budaya demokrasi merupakan sistem nilai yang dinamis dan tidak statis
Demokrasi yang berlaku secara universal mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:
-          Keterlibatan warga Negara dalam pembuatan keputusan politik
-          Persamaan(kesetaraan) di antara warga Negara
-          Kebebasan atau kemerdekaan yang diakui dan dipakai oleh warga Negara
-          Supremasi hokum
-          Pemilu berkala

3.    Keterbukaan dan Jaminan Keadilan Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Pengelolaan Negara harus berlandaskan pada prinsip-prinsip pemerintahan yang berbasis good government yang meliputi:
-          Asas kepastian hokum
-          Asas keseimbangan dan kesamaan
-          Asas larangan penyalahgunaan wewenang
-          Asas bertidak cermat dan motivasi
-          Asas perlakuan yang jujur dan wajar
-          Asas kebijakan
-          Asas penyelenggaraan kepentingan umum
Pemerintahan yang mengedepankan keterbukaan(transparansi) harus melibatkan semua pihak dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara harus dilibatkan dalam setiap proses pembuatan dan pengambilan keijakakn public(pemerintahan) ataupun pengawasan jalannya pemerintahan.
Keterbukaan adalah sikap mental yang mendukung sistem pelaksanaan pemerintahan yang transparan yang ciri-cirinya adalah kesediaan untuk memberikan informasi yang benar dan terbuka terhadap masukan atau permintaan orang lain. Dengan adanya keterbukaan maka penyelenggaraan Negara yang korup, tidak efisien, dan tidak professional dapat dihindari.
Keadilan secara universal diartikan sebagai berikut:
-          Keadilan adalah suatu tindakan yang didasarkan pada norma-norma yang  berlaku dalam masyarakat
-          Keadiilan merpakan suatu tindakan yang mengandung kebenaran, tidak memihak, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta memperlakukan setiap orang pada kedudukan yang sama
-          Keadilan merupakan sikap dan perbuatan yang tidak berat sebelah, tidak memihak, serta memberikan kepada orang lain yang menjadi haknya.
Dari sudut pandang politik keadilan dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
-          Keadilan utilitaris, artinya sesuatu dikatakn adil apabila berguna, berfaedah, dan menguntungkan.
-          Keadilan intusionis, artinya sesuatu dikatakan adil berdasarkan bisikan langsung hati nurani, bukan berdasarkan rasionalisme
-          Keadilan fairness, artinya keadilan ini dibangun berdasarkan keadilan yang dirumuskan masyarakat secara demokratis.
Unsur-unsur manajemen pemerintahan yang transparan:
-          Social participation
-          Social responsibility
-          Social support
-          Social control
Syarat-syarat suatu pemerintahan yang transparan, diantaranya sebagai berikut:
-          Di dalam konstitusi Negara tercantum secara eksplisit tentang HAM
-          Idiologi Negara yang dianut harus bersifat terbuka dalam berbagai sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya
-          Secara konstitusional menetapkan sistem politik demokratis
-          Menganut sistem multi partai
-          Melaksanakan pemilu secara periode
-          Terdapat pers yang bebas dan bertanggung jawab
-          Diakuinya kemerdekaan menyampaikan pendapat
-          Terdapat stabilitas nasional yang kuat, yaitu meliputi IPOLEKSOSBUDHANKAM
-          Setiap warga Negara mempunyai kesadaran kehidupan bangsa yang kuat
-          Tidak terdapat pemusatan kekuasaan, tetapi menganut pembagian kekuasaan
-          Tidak terdapat sistem monopoli dan oligopoli